
Es lilin adalah salah satu jajanan paling ikonik bagi anak-anak yang tumbuh di era 90-an. Begitu bel istirahat berbunyi, anak-anak sekolah akan berlarian menuju kantin atau warung terdekat untuk membeli es lilin. Harganya pun ramah di kantong anak kecil hanya berkisar antara Rp 100 hingga Rp 250 tergantung rasanya, ada yang rasa es teh, kopi, tape, cincau, kacang hijau, gula merah hingga aneka sirup warna-warni.
Di sinilah letak keunikan es lilin, ia lahir dari keterbatasan. Karena kulkas masih menjadi barang langka dan mahal pada waktu itu, hanya beberapa rumah saja yang mampu memilikinya jadi usaha es lilin menjadi bisnis yang benar-benar menjanjikan. Persaingannya minim, pembelinya banyak dan marginnya lumayan
Bagiku, es lilin bukan hanya tentang jajanan jadul tapi ia juga menjadi bagian dari kisah perjalanan pulang yang tak terlupakan saat masih sekolah dulu. Perjalanan sejauh 1,5 kilometer itu terasa seperti petualangan kecil yang kami nikmati bersama, penuh celotehan, senda gurau dan tawa sambil menikmati dinginnya es lilin.
Sekarang, es lilin mulai tergeser dengan kehadiran produk minuman sachet seperti Jasjus, Marimas, Teh Gelas, Kiko dan lain sebagainya. Saat semua orang hampir rata-rata sudah memiliki kulkas di rumahnya masing-masing, es lilin justru menjadi sesuatu yang terlupakan, padahal membuat es lilin sendiri itu jauh lebih sehat, lebih ekonomis, terjamin kebersihannya dan minim bahan kimia.
Es lilin tidak selalu harus mewah, dengan isian sederhana pun es ini tetap bisa membuat siapa saja merasa senang. Karena yang membuatnya istimewa bukan hanya rasanya saja tapi juga kenangan masa kecil yang melekat di dalamnya.