Ketika Bullying di Masa Kecil Membekas hingga Dewasa

Bullying bukanlah hal yang baru. Sejak dulu hingga sekarang, perundungan masih terus terjadi dan bisa menimpa siapa saja tanpa memandang usia. Sama seperti yang terjadi padaku saat masih duduk di bangku sekolah dasar dulu.

Pengalaman itu masih membekas hingga sekarang. Aku masih ingat bagaimana mereka tertawa dan mengolok-olokku, menjauhiku bahkan melempariku dengan batu saat pulang sekolah. Semua itu dilakukan hanya karena aku dianggap berbeda dan berasal dari kelompok minoritas.

Saat mengingat kejadian tersebut, aku sering berpikir, bagaimana anak-anak bisa melakukan bullying? Bukankah pada usia itu mereka belum benar-benar memahami arti kebencian? Mungkin perilaku itu muncul karena mereka meniru apa yang mereka lihat, terpengaruh oleh lingkungan atau menganggap tindakan tersebut hanya sebagai sebuah lelucon.

Padahal, bullying yang terjadi pada masa anak-anak dapat memberikan efek jangka panjang, terutama jika korban tidak tahu bagaimana cara menghadapi pelaku dan tidak mendapatkan dukungan yang cukup untuk membangun kembali rasa percaya dirinya.

Jika ditanya apa dampak dari kejadian tersebut setelah aku dewasa, beberapa diantaranya adalah rasa waspada, sensitif dan sulit percaya kepada orang lain (trust issue). Aku menjadi lebih selektif dalam berteman dan cukup sulit untuk masuk ke dalam suatu pergaulan. Aku cenderung tidak memulai percakapan jika orang lain tidak memulainya terlebih dahulu. Dalam berteman, aku lebih nyaman dengan orang-orang yang memang menunjukkan keinginan untuk berteman denganku. Sikap selektif ini terkadang dianggap sebagai bentuk kesombongan, padahal itu adalah suatu cara yang terbentuk dari pengalaman masa lalu.

Dan sekarang, pelaku bullying tidak hanya berasal dari kalangan anak-anak saja tetapi juga orang dewasa. Kalau pada anak-anak perilaku tersebut mungkin muncul karena meniru apa yang mereka lihat, lantas pada orang dewasa bisakah kita menyebutnya sebagai karakter? karena seharusnya mereka sudah dapat berpikir dengan akal sehat.

Aku percaya bahwa bullying tidak akan akan pernah benar-benar hilang. Akan selalu ada orang yang merendahkan orang lain. Namun, akan selalu ada juga orang yang memilih untuk berempati dan membela mereka yang menjadi korban.

Karena itulah, aku berharap kepada siapa pun yang sedang mengalami bullying, tetaplah kuat dan jangan menyerah pada keadaan. Jangan biarkan suara para pembuli menjadi suara yang mendefinisikan dirimu. Tetaplah menjadi diri sendiri dan jangan pernah berubah menjadi pelaku bullying hanya karena kamu pernah disakiti.

Jangan hanya diam saat dibuli karena nanti pelaku akan semakin bertindak semena-mena. Namun, membalasnya dengan ejekan atau kekerasan juga bukan solusi karena dapat memperbesar konflik. Tetaplah tenang, bersikap tegas dan mencari bantuan. Pelaku bullying perlu dihadapkan pada batasan dan konsekuensi yang jelas melalui orang tua, guru, pihak sekolah, lingkungan kerja atau jika diperlukan melalui mekanisme hukum yang berlaku.

Tidak semua luka dapat terlihat oleh mata. Ada luka yang mungkin sudah bertahun-tahun berlalu, tetapi masih memengaruhi cara seseorang melihat dirinya sendiri dan orang lain. Perbedaan suku, agama, ras dan antargolongan (SARA) bukanlah alasan untuk merendahkan dan memperlakukan seseorang dengan tidak adil.